Minggu, 02 November 2008

Petani dan Ekspor

Berawal saat salah satu tim pulang di sebuah desa di Jawa Tengah.

Malam itu ia berbincang2 di pos ronda, ada hal yang menarik dari perbincangan itu. 

kurang lebih seperti ini,

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

TimKami   : Panen kencur pak de? wah dompet'e kandel malih nggih ?

                  ( Panen Kencur Paman ? Wah dompetnya tebal lagi ya ? )

Pak Pono : Kandel pripun om, malah ra tak dol, ben ngumpuk yo men, nggo ayem - ayem

                 atiku le mangkel..

                 ( Tebal gimana Om, Malah gak saya jual, biar aja numpuk ngga papa,

                  buat obat sakit hati )

TimKami  : Loh, lha koq ngaten PakDe?

                ( Loh, Lha koq bisa seperti itu Paman ?)

Pak Pono : Lha piye maneh, didol nang pasar gak ono sing gelem, didol nang tengkulak

                 murah banget, gak cucuk karo ragate le tandur.

                 Yo ngene iki Om nasip'e wong tani. Ben ae lah ....

                 ( Lha gimana lagi, dijual di pasar ngga ada yang mau beli,

                   dijual di tengkulak murah sekali, ngga sesuai dengan biaya tanam.

                    Ya seperti inilah nasibnya petani. Biar aja lah  )

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kemudian TimKami tersebut mencoba iseng membeli kencur hasil tani Pak Tono, waktu itu tahun 2007. Pak Tono memberi harga Rp.10.000,-  untuk sekeranjang kencur segar ( keranjang bakul dari anyaman bambu yang kecil ). Sesampai di Semarang, kencur tersebut diambil 1/4nya untuk dibagikan ke tetangga sebagai oleh-oleh. 

Tapi aneh, ternyata yang 3/4 nya dibeli pedagang sayur kecil di pasar Semarang dengan harga Rp.60.000,-.

Karena penasaran, TimKami tersebut coba - coba membawa contoh Kencur tersebut ke salah satu Lab. yang terpercaya untuk ditest kuwalitasnya. Dan ternyata hasilnya sangat mengejutkan, kwalitas kencur tersebut sebenarnya memenuhi syarat untuk masuk pabrik maupun ekspor, meskipun kuwalitasnya tidak istimewa, tapi yang menjadi catatan adalah kata " Masih bisa masuk dan layak ".

Kami jadi berfikir, sudah puluhan tahun peluang sekaligus permasalahan ini terbuka di depan mata, tapi kenapa kami tidak melihatnya, kenapa justru kita mencari yang lain kemana - mana, padahal yang kita cari ada pada kita....

Bangsa Indonesia jawablah .... apa yang musti saya dan kita lakukan untuk mereka dan untuk kita ???

Jawablah wahai anak bangsa ....... wahai jiwa - jiwa Garuda Pancasila ...... wahai tiang penyangga Merah Putih ....... Didadamu ada bangsa ini, ditanganmulah nasibmu dan nasib bangsa ini ..... tolong beritahu saya apa yang ada di dadamu? sesakkah ?

Pertanyaannya tunggal ......

1. Apa yang bisa kita lakukan, untuk mereka dan kita sekarang, bukan besok ?